Rabu, 30 November 2016

Pendekatan Psikologi Perkembangan



Untuk mengetahui suatu perkembangan dan pertumbuhan manusia baik secara kuantitatif maupun kualitatif dari manusia tersebut maka dilakukan pendekatan-pendekatan dan metode-metode tertentu, dimana untuk memberikan pengertian bagaimana peneliti (psikolog) perkembangan melakukan tugas mereka dalam mendapatkan lebih banyak pengertian akan gejala perkembangan dan bagaimana cara untuk mengatasi hambatan dalam proses perkembangan.
            Pembahasan mengenai pendekatan yang lebih umum mengandung 2 pengertian, yaitu memberikan lebih banyak data mengenai keseluruhan perkembangan atau beberapa aspeknya, dan meninjau pengaruh faktor endogen (bawaan) dan eksogen (lingkungan, khususnya kebudayaan) bagi perkembangan seseorang.
            Dalam pembahasan ini mengenai metode hanya dimaksudkan untuk memberikan sekedar pengertian bagaimana para psikolog perkembangan melakukan tugas mereka. Beberapa metode dimaksudkan untuk memberikan lebih banyak pengertian akan gejala perkembangan, beberapa metode lain lagi memberikan pengertian bagaimanana mengatasi hambatan dalam proses perkembangan. Dapat pula dibedakan antara pendekatan yang lebih umum dan metode yang lebih spesifik. Pendekatan yang lebih umum memberikan pengertian akan keseluruhan proses perkembangan atau beberapa aspeknya, misalnya perkembangan intelektual, atau pengertian akan faktor endogen dan eksogen bagi perkembangan seseorang.
            Termasuk metode yang lebih spesifik adalah cara-cara khusus yang dipakai untuk mengetahui gejala perkembangan yang sedang timbul. Adapun pendekatan psikologi perkembangan dapat diuraikan sebagai berikut.
1.     Pendekatan Longitudinal
Pendekatan longitudinal adalah pendekatan dalam penelitian yang dilakukan dengan cara menyelidiki perkembangan manusia dalam jangka waktu yang lama atau sebagai waktu dari hidup manusia tersebut, misalnya mengikuti perkembangan seseorang dari lahir sampai akhir hidupnyaatau sebagian dari hidupnya.
2.     Pendekatan Transversal atau Cross-Sectional
Pendekatan transversal atau cross-sectional adalah pendekatan dalam penelitian yang dilakukan dengan cara menyelidiki perkembangan manusia dari beberapa kelompok dalam jangka waktu yang relatif  singkat. Pada pendekatan ini, penelitian dilakukan terhadap beberapa subjek yang dikelompokkan, misalnya dikelompokkan menurut usia subjek yang diteliti secara berurutan (14 tahun, 15 tahun, 17 tahun). Kemudian kelompok yang berbeda tersebut dapat dibandingkan dalam beberapa hal, seperti IQ, memori, emosi, cara bergaul dengan teman sebaya, dan sebagainya.
3.     Pendekatan Sekuensial
Pendekatan sequential (sekuensial) adalah pendekatan kombinasi dari longitudinal dan cross-sectional. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk membandingkan perbedaan individual dan perkembangan. Kombinasi dari longitudinal dan cross-sectional dapat menyajikan gambaran perkembangan yang lebih lengkap daripada dilakukan pendekatan secara terpisah.
4.     Pendekatan Cross-Culture (Lintas-Budaya)
Pendekatan cross-culture adalah pendekatan dalam penelitian yang mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan maupun kebudayaan yang dapat memengaruhi perkembangan manusia. Pendekatan ini dilakukan terhadap beberapa kelompok yang berbeda latar belakang kebudayaannya, baik melalui percobaan maupun tes pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan pengumpulan data lainnya untuk dianalisis persamaan dan perbedaannya.


semoga bermanfaat😉😊

Perbedaan Individual Peserta Didik



Perbedaan Individual Peserta Didik 



Setiap anak  unik dan memiliki perbedaan karakteristik, berikut akan dijelaskan macam-macam perbedaan individual peserta didik.
1.     Perbedaan Fisik-Motorik
Perbedaan individual dalam fisik tidak hanya berbatas pada aspek-aspek yang teramati oleh pancaindra. Perbedaan aspek fisik juga dapat dilihat dari kesehatan peserta didik, seperti  kesehatan mata dan telinga.
2.     Perbedaan Intelegensi
Intelegensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran atau intelektual dan merupakan bagian dari proses kognitif pada tingkatan yang lebih tinggi. Untuk mengetahui tinggi rendahnya intelegensi peserta didik para ahli telah mengebangkan instrumen yang dikenal “tes intelegensi”, yang kemudian lebih populer dengan istilah Intelligence Quotient, disingkat IQ. Berdasarkan hasil tes intelegensi, pesertz didik dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Anak Genius
IQ diatas 140
Anak Pintar
110-140
Anak Normal
90-110
Anak Kurang Pintar
70-90
Anak Debil
50-70
Anak Dungu
30-50
Anak Idiot
IQ dibawah 30

3.     Perbedaan Kecakapan Bahasa
Kemampuan berbahsa adlah kemampuan sesorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dalam kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis. Dari hasil beberapa penelitian bahwa faktor nature dan nurture sangat memengaruhi perkembangan bahasa anak. Faktor yang memengaruhi perbedaaan kecakapan anak, yaitu faktor kecerdasan, pembawaan, lingkungan fisik, terutama organ bicara, dan sebagainya.
4.     Perbedaan Psikologis
Perbedaan psikologis peserta didik juga terlihat dari aspek pikologisnya. Persoalan psikologis memang sangat kompleks dan sangat sulit dipahami secara tepat, karena menyangkut apa yang ada didalam jiwa dan perasaan peserta didik. Salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan kepada peserta didik secara pribadi.


semoga bermanfaat😊

Teori-Teori Tentang Hakikat Perkembangan Peserta Didik



Teori-Teori Tentang Hakikat Perkembangan Peserta Didik 



Berikut dijelaskan beberapa teori psikologi tentang hakikat manusia tersebut, terutama dikaitkan dengan perkembangan psikologi anak didik.
1.     Teori Psikodinamika
Teori psikodinamika adalah teori psikologi yang berupaya menjelaskan hakikat dan perkembangan tingkah laku atau kepribadian manusia. Teori ini dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939). Model psikodinamika yang diajukan Freud disebut teori psikoanalistis (psychoanalytic theori). Menurut teori ini, tingkah laku manusia merupakan hasil tenaga yang beroperasi didalam pikiran, yang sering tanpa disadari oleh individu. 
2.     Teori Behavioristik
Teori behavioristik adalah sebuah aliran dalam pembahasan tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh Jhon B. Watson (1878-1958), seorang ahli psokologi Amerika, pada tahun 1930, sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Watson dan teoristik behavioristik lainnya, seperti Skinner (1904-1990), meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh limgkungan / stiuasional.
3.     Teori Humanistik
Teori humanistik muncul pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi terhadap teori psikodinamika dan behavioristik. Para teoritikus humanistik, seperti Carl Rogers (1902-1987) dan Abraham Maslow (1908-1970) meyakini bahwa tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak diasadari maupun sebagai hasil pengondisian (Conditioning) yang sederhana.
4.     Teori Psikologi Transpersonal
Teori psikologi transpersonal merupakan pengembangan psikologi humanistik aliran psikologi ini disebut aliran keempat psikologi. S.I. Shapiro dan Denise H. Lojoie (1992) menggambarkan psikologi transpersonal sebagai transpersonal psychology is concerted with teh study of humanisty highest potential, and with the recognition understanding, and realization of unitive, spiritual, and transcendent states of consciousness.
5.     Teori Nativisme (Teori Yang Berorientasi Pada Biologi)
Tokoh utama aliran nativisme adalah Arthur Schopenhaur dari Jerman (1788-1860). Tokoh lain seperti J.J. Rousseau, seorang ahli filsafat dan pendidikan dari Perancis. Kedua tokoh ini berpendapat betapa pentingnya inti privasi atau jati diri manusia. Meskipun dalam keadaan sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orangtuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orangtuanya. Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Masih banyak faktor yang dapat memengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju kedewasaan.
Teori nativisme mengemukakan bahwa anak yang lahir telah dilengkapi pembawaan bakat alami, dan pembawaan inilah yang akan menentukan wujud kepribadian seorang anak. Pengaruh lain dari luar tidak akan mampu mengubah pembawaan anak. Dengan demikian, maka pendidikan bagi anak akan sia-sia dan tidak perlu dihiraukan.
6.     Teori Empirisme (Teori Lingkungan)
Aliran empirisme bertentangan dengan paham aliran nativisme. Empirisme , tidak mengakui adanya pembawaan atau potensinya dibawah lahir manusia. Dengan kata lain, bahwa anak manusia itu lahir dalam keadaan suci dalam pengertian anak bersih tidak membawa apa-apa. Karena itu, alira ini berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik besar pengaruhnya pada faktor lingkungan.
7.     Teori Konvergensi
Aliran konvergensi berasal dari kata konvergen, artinya bersifat menuju suatu titik pertemuan. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu itu baik dasar maupun lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting.
Ketika aliran-aliran pendidikan, yakni nativisme, empirisme, dan konvergensi, dikaitkan dengan teori belajar mengajar kelihatan bahwa kedua akiran yang telah disebutkan mempunyai kelemahan. Adapun kelemahan yang dimaksudkan adalah sifatnya yang ekslusif dengan cirinya ekstrem berat sebelah. Sedangkan aliran yang terakhir (konvergensi) pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang seorang peserta didik dalam kegiatan belajarnya. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu.


semoga bermanfaat 😀

Masalah Perkembangan Psikologi Anak Usia Sekolah Dasar (SD)



Masalah Perkembangan Psikologi Anak Usia Sekolah Dasar (SD)



Perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar memang merupakan sebuah hal yang sangat disorot. Pada masa ini, anak akan mendapatkan beragam masalah karena ia baru saja mengenal dunia baru, yaitu dunia sekolah. Anak akan berinteraksi dengan lebih banyak orang yang bisa memajukan atau bahkan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan psikologinya. Berikut adalah beberapa masalah perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar yang mungkin saja/biasa terjadi.
·       Hiperaktif
Hiperaktif ini merupakan sebuah gangguan psikologi anak yang cukup sering terjadi. Seorang anak akan mendapatkan sebuah gangguan perilaku dimana mereka cenderung bergerak aktif, bahkan super aktif di dalam rumah atau di lingkungan permainan bersama dengan teman-temannya. Anak-anak yang hiperaktif bisa membahayakan teman-temannya akibat perilaku yang terjadi secara spontan dan tanpa piker panjang. Oleh karena itu, seorang anak dengan masalah psikologi hiperaktif memerlukan penanganan yang begitu cepat.
·       Sulit Berkonsentrasi
Apakah anda pernah menemukan anak yang sulit berkonsentrasi ? Tentu saja begitu banyak.Anak dengan konsentrasi yang buruk bisa membuatnya kesulitan apabila harus belajar dalam waktu lama dan mengerti mengenai beberpa materi pembelajaran. Mereka cenderung mudah terpengaruh terhadap hal yang ada di sekitarnya sehingga tidak mampu berkonsentrasi secara maksimal.
·        Pemurung dan Penyendiri
Ketika kita telah membahas mengenai anak-anak yang ceria, bahkan hiperaktif, ada pula anak yang berperilau sebaliknya. Mereka sangat sulit bergaul dan cenderung merasa malu dengan keadaan mereka sendiri. Anak-anak seperti ini juga tidak boleh dibiarkan berlarut karena jiwa sosial mereka tidak bisa berkemabang jika selalu dibiarkan.
·       Masalah Bicara
Seorang anak yang mempunyai masalah bicara juga banyak terjadi. Rata-rata mereka mempunyai masalah mengenai artikulasi dimana pembicaraan yang mereka lakukan kurang jelas dan sulit diterima oleh lawan bicara. Salah satu cara terbaik untuk memecahkan masalah ini adalah dengan terapi bicara. Seorang anak akan diajarkan bagaimana cara berbicara dengan konsep yang pelan, lambat namun jelas.