Minggu, 18 Desember 2016

Empat Kompetensi Guru Berdasarkan Undang-Undang

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa
“Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”

Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK

A. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :
1. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
2. Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
3. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
5. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

B. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :
1. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
2. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.
3. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
5. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

C. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
– Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang dimampu
– Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang dimampu
– Mengembangkan materi pembelajaran yang dimampu secara kreatif.
– Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
– Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.

D. Kompetensi Sosial
Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
– Bersikap inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agara, raskondisifisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga.
– Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
– Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman sosial budaya.

Semoga bermanfaat
Terimakasih✌

Kamis, 01 Desember 2016

[INDEX]

INDEX

NAMA: RATU ANITA PRATIWI
NIM: 2227150012
KELAS/SEMESTER: 3A
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
  1. Implikasi Perkembangan Otak terhadap Pendidikan
  2. Perkembangan Fisik, Denetik, dan Lingkungan Pesert...
  3. Implikasi Kebutuhan Individu Peserta Didik terhada...
  4. Teori Kebutuhan Peserta Didik
  5. Pendekatan Psikologi Perkembangan
  6. Perbedaan Individual Peserta Didik
  7. Teori-Teori Tentang Hakikat Perkembangan Peserta D...
  8. Masalah Perkembangan Psikologi Anak Usia Sekolah D...
  9. Karakteristik Perkembangan Peserta Didik
  10. Implikasi Pertumbuhan/Perkembangan/Kematangan Pese...
  11. Kematangan dan Perkembangan Pengalaman Peserta Did...
  12. Perkembangan Masa Hidup Anak
  13. Tahap-Tahap dan Ciri Perkembangan Anak
  14. Pengertian Peserta Didik
  15. Perkembangan dan Pertumbuhan
  16. Aspek dan Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Pe...
  17. Tujuan, Fungsi, dan Manfaat Psikologi Perkembangan...
  18. Kenakalan Anak Sekolah Dasar
  19. Psikologi Perkembangan
  20. APA GUNANYA FILSAFAT BAGI MANUSIA?
  21. KARAKTERISTIK FILSAFAT
  22. Sejarah Timbulnya Filsafat
  23. Tahapan Berfilsafat
  24. Mengapa Harus Belajar Filsafat?
  25. Definisi Sosiologi
  26. Definisi Masyarakat
  27. Anak dan Lingkungannya
  28. Etika, Norma, Hukum dan Akhlak
  29. NILAI BUDAYA
  30. MANUSIA DAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN
  31. Manusia dengan Moral
  32. Proses Terbentuknya nilai
  33. Moral
  34. Pendidikan Karakter
  35. Relasi Agama dan Budaya
  36. Pendukung Peningkatan Budaya Kinerja Guru Sekolah ...
  37. Budaya Kinerja Guru Sekolah Dasar
  38. Karakter Anak Bangsa
  39. Beberapa Hal Yang Dapat Dilakukan Untuk Menciptaka...
  40. Macam-macam Ilmu Pendidikan
  41. Apa yang dimaksud dengan Pendidik?
  42. Perbedaan Epistemologi, Aksiologi, dan Ontologi
  43. Perbedaan Teori Empirisme, Nativisme, dan Konverge...
  44. Apa yang dimaksud dengan Long Life Education?
  45. Pengertian pendidikan menurut para ahli:
  46. Landasan Pendidikan
  47. Pengertian Guru
  48. Macam-Macam Metode Pembelajaran
  49. Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
  50. Strategi pembelajaran inquiry
  51. Strategi pembelajaran ekspositori
  52. Strategi Pembelajaran Afektif
  53. Strategi Pembelajaran Kooperatif/ Kelompok
  54. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpik...
  55. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
  56. Metode dalam Contextual Teaching Learning
  57. Contextual Teaching Learning
  58. Strategi Pembelajaran Inkuiri Sosial
  59. Metode dalam Strategi Pembelajaran Inquiry
  60. Strategi Inquiry
  61. Metode yang tepat untuk Strategi Ekspositori
  62. Strategi Pembelajaran Ekspositori
  63. 12 Tujuan wisata di Banten dan sekitarnya
  64. Perbandingan Filsafat Pancasila Dengan Sistem Fils...
  65. Unsur-unsur Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
  66. Membuat Kesan Pertama yang Menyenangkan
  67. PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
  68. ALASAN MASIH DIPERLUKANNYA PANCASILA DI PERGURUAN ...
  69. KAJIAN ILMIAH-FILSAFATI PENDIDIKAN PANCASILA
  70. PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
  71. Membangun Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dengan ...
  72. Faktor Penghambat Hubungan Sosial
  73. Terbentuknya Kemandirian dan Faktor-faktor yang Me...
  74. Membentuk Kemandirian Anak
  75. Kekurangan Ruang Kelas, Siswa SD di Pandeglang Bel...
  76. Karakteristik Perkembangan Konsep Diri Peserta Did...
  77. PERKEMBANGAN KONSEP DIRI PESERTA DIDIK
  78. Seminar Nasional dan Bedah Buku
  79. Media Pembelajaran bagi Guru Kreatif
  80. Pengendalian Sosial
  81. Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)
  82. Empat Kompetensi Guru Berdasarkan Undang-Undang
  83. Ini Sekolahku Bukan Kandang Kambing
  84. Motivasi yang Membangkitkan Semangat Jadi Guru den...
  85. Bagaimana Mengetahui Seseorang Sedang Berbohong?
  86. 6 Cara Meningkatkan Daya Ingat Anda
  87. 10 Tips Sederhana Untuk Mendapatkan Kulit Sehat da...
  88. Fakta Tentang Otak manusia
  89. Pahala Seorang Guru
  90. Prinsip-prinsip Belajar
  91. Asal Usul Nama Pandeglang 
  92. Pendidikan di Indonesia yang Tak Sesuai Ekspektasi

Karakteristik Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik



Karakteristik Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik


Anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru atau negatif, ditambah dengan lingkungan yang kurang mendukung cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini adalah karena anak cenderung menilai dirinya berdasarkan apa yang ia alami dan yang ia dapatkan dari lingkungannya.  Jika lingkungannya memberikan sikap baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya berharga, sehingga perkembangan konsep diri yang positif.
1.     Karakteristik Konsep Diri Anak Usia Sekolah Dasar
Mc Devitt dan ormrod (2002), memberikan gambaran tentang perubahan-perubahan konsep diri anak usia SD ( usia 6-12 tahun), sebagai berikut.
Research indicates that children’s self-concept sometimes drop soon after they begin elementary school, probably as a result of the many new academic and social challenges that school present. Elementary shool gives chidren many occasions to compare their performance with that of peers, and so their self-assesment gradually become more realistic. Yet this comprative approach inevitably creates “winner” and “losers”. Children who routinely find themselves at the bottom of the heap must do some fancy footwork to keep their self-esteem intact. Often, they focus on performance areas in which they misalnyacel (e, g sport, sosial relationship, or hobbies) and discount areas that give them trouble (e, g “Reading is dumb”). Perhaps  because they have so many domains and misalnyaperiences to consider as they look for strengths in their own performances, most children maintain fairly high and stable self-esteem during the elementary school years.
Kutipan diatas memberikan gambaran tentang perubahan-perubahan dalam konsep diri anak usia SD. Awal-awal masuk sekolah dasar, terjadi penurunan dalam konsep diri anak-anak. Hal ini mungkin disebabkan oleh tuntutan baru dalam akademik dan perubahan sosial yang muncul disekolah. SD banyak memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membandingkan dirinya dengan teman-teman nya, sehingga penilaian dirinya secara gradual menjadi lebih realistis.
Menurut Santrock (1995), perubahan-perubahan konsep diri anak selama tahun-tahun sekolah dasar dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tiga karakteristik konsep diri berikut.
a)        Karakteristik Internal. Berbeda dengan anak-anak prasekolah, anak usia sekolah dasar lebih memahami dirinya melalui karakter internal dirinya melalui karakteristik eksternal. Sehubungan dengan hal ini, Mc Deviit dan Ormrod (2002) menulis : young children tend to define themselves in terms of misalnya ternal and concrete characteristic. As they grow older, they begin to define themselvesmore in terms of internal and abstract characteristic.
b)       Karakteristik aspek sosial. Selama tahun-tahun sekolah dasar, aspek sosial dari pemahaman dirinya juga meningkat dalam suatu investigasi, anak-anak SD sering kali menjadikan kelompok-kelompok sosial sebagai acuan dalam deskripsi diri mereka (Livesly dan Bromley, 11983).
c)        Karakteristik perbandingan sosial. Pemahaman diri anak-anak usia sekolah dasar  juga mengacu pada perbandingan sosial (social comparison). Pada tahap perkembangan ini, anak-anak cenderung membedakan diri mereka dari orang lain, secara komparatif daripada secara absolut.

Sejumlah ahli psikologi perkembangan percaya bahwa dalam perkembangan pemahaman diri, pengambilan perspektif kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain dan memahami pemikiran dan pemikiran dan perasaanya memainkan perasaan yang penting. Robert Selman (dalam Santrock, 1995) misalnya, percaya bahwa pengambilan perspektif melibatkan suatu rangkaian yang terdiri atas lima tahapan, yang berlangsung dari usia 3 tahun hingga masa remaja. Selman mencatat bahwa egosentrisme mulai mengalami kemunduran pada usi 4 tahun, dan pada usia 6 tahun anak menyadari bahwa pandangan orang lain berbeda dari pandangannya sendiro dan pandangan orang lain secara bersamaan. Akan tetapi, sejumlah peniliti tdak setuju dengan tingkatan-tingkatan usia Selman yang mengaitkan perubahan-perubahan dalam kemampuan pengambilan peran.
Tabel Tahap-Tahap Pengambilan Perspektif
Tahap pengambilan perspektif
Usia
Deskripsi
Perspektif yang egosentris
3-6 tahun
Anak merasakan adanya perbedaan dengan orang lain, tetapi belum mampu membedakan antara perspektif sosial (pemikiran,perasaan) orang lain dan perspektif diri sendiri. Anak dapat menyebutkan perasaan orang lain, tetapi tidak melihat hubungan sebab dan akibat pemikiran dan tindakan sosial
Pengambilan perspektif sosial internasional
6-8 tahun
Anak sadar bahwa orang lain memiliki suatu perspektif sosial yang didasarkan atas pemikirin orang itu, yang mungkin sama atau berbeda dengan pemikirannya. Tetapi, anak cenderung berfokus pada perspektif sendiri dan bukan mengkoordinasikan sudut pandang
Pengambilan keputusan diri reflektif
8-10 tahun
Anak sadar bahwa setiap orang sadar akan perspektif orang lain dan bahwa kesadaran ini memengaruhi pandangan dirinya dan pandangan orang lain. Menempatkan diri sendiri ditempat orang lain merupakan suatu cara untuk menilai maksud, tujuan dan tindakan orang lain. Anak dapat membentuk suatu mata rantai perspektif yang terkoordinasi tetapi tidak dapat mengabstraksikan proses-proses ini pada tingkat timbal secara serentak
Saling mengambil perspektif
10-12 tahun
Anak remaja menyadari bahwa baik diri sendiri maupun orang lain dapat memandang satu sama lain secara timbal balik dan secara serentak subjek. Anak remaja dapat melangkah keluar dari kedua orang tua itu dan memandang interaksi dari perspektif orang ketiga
Pengambilan perspektif
12-15 tahun
Anak remaja menyadari pengambilan perspektif bersama tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sempurna. Konvensi sosial dilihat sebagai sesuatu yang penting karena dipahami oleh semua anggota kelompok, tanpa memandang posisi, peran, atau pengalaman mereka

Menurut sejumlah ahli lain, anak-anak usia 6 tahun mampu memahami perspektif orang lain. Penelitian lain mencatat bahwa seseorang yang  berusia sama belum bisa diasosiasikan dengan masing-masing tingkat, sebab kemampuan anak dalam pengambilan peran mungkin berfluktuasi dari suatu waktu ke waktu lain (Maccoboy, 1980). Demikian juga, anak yang memahami perspektif oranglain yang familiar dalam situasi yang familiar, mungkin kurang mampu dalam memahami orang atau situasi yang tidak familiar (Flapan, 1968).

PERKEMBANGAN KONSEP DIRI PESERTA DIDIK




PERKEMBANGAN KONSEP DIRI PESERTA DIDIK

A.     Pengembangan Konsep Diri dan Harga Diri Peserta Didik
Sebagai sebah konstruk psikologi, konsep diri didefinisikan secara berbeda oleh para ahli. Seibert dan Hoffung (1994) misalnya, mendefinisikan konsep diri sebagai “suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri sendiri”. Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari diri sendiri. Sementara itu, Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang dirinya. Selanjuutnya, Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk. Pertama, body image kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater, 1986), mendefinisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut. Sementara itu, Cawagas (1983) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup selrh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, keseluruhannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.
Berdasarkan definisi di atas disimpulkan bahwa konsep diri adalah gagasan tentang diri sendiri yang mencakup keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Setelah ter-install, konsep diri akan masuk kepikiran bawah sadar dan akan berpengarh terhadap tingkat kesadaran seseorang pada suatu waktu.

1.     Konsep Diri dan Harga Diri
Dalam kegiatan belajar mengajar, konsep diri sangat penting untuk diketahui oleh peserta didik. Karakteristik peserta didik sia sekolah dasar sangat beragam sehingga dalam praktiknya, seorang guru harus mengetahui dan memahami konsep diri siswa secara mendalam. Konsep diri penting untuk membangun atmosfer belajar yang baik, sebab konsep diri adalah bagaimana cara pandang individu dalam menghadapi pembelajaran disekolah. Dengan hal itu maka konsep diri sangat memengaruhi dalam evaluasi hasil belajar.
Selain itu implikasi perkembangan konsep diri sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Karakteristik yang berbeda, kondisi emosional, keterampilan sangat memengaruhi siswa dalam memahami pembelajaran disekolah. Untuk itu, dalam memahami konsep diri, seorang guru juga harus memberikan perlakuan yang sesuai dan memberikan contoh disiplin kepada siswa agar siswa mampu menjalani kegiatan belajar dengan baik.
Sering dijumpai istilah “harga diri” (self-esteem) di samping istilah “konsep diri” (self-concept), bahkan sejumlah ahli tidak selalu menyebutkan perbedaan di antara keduanya. Bahkan mereka tidak jarang menggunakan istilah keduanya secara bergantian untuk menunjuk pengertian yang sama, tetapi sejumlah ahli mengatakan kedua istilah tersebut tidak sama walaupun berhubungan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Dacey dan Kenny (1997): where as self-concept answers the question “Who am I”?, Self-esteem the question “How do I feel about who am I”? “Self-esteem is related to self-concept. As well defined self-concept leads to high self-esteem, which in turn often leads to successful behavior”
Menurut Santrock (1998), self-esteem adalah dimensi penilaian yang menyeluruh dari diri. Self-esteem juga sering disebut dengan self-worth atau self-image. Sedangkan, self-concept adalah penilaian terhadap domain yang spesifik.
Sedangkan menurut Gilmore (dalam Akhmad Sudrajad) harga diri merupakan penilaian individu terhadap kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya. Sementara itu, Buss (1973) memberikan pengertian harga diri (self esteem) sebagai penilaian individu terhadap dirinya senidir, yang sifatnya implisit dan tidak diverbalisasikan.
Para ahli pun berbeda pendapat dalam menetapkan dimensi-dimensi konsep diri. Namun, secara umum para ahli menyebutkan 3 dimensi diri, meskipun menggunakan istilah yang berbeda. Calhoun dan Acocella (1990) misalnya, menyebutkan 3 dimensi utama dari konsep diri sebagai berikut.
a.     Pengetahuan
Dimensi pertama dari konsep diri adalah apa yang kita ketahui tentang diri sendiri atau penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberikan gambaran tentang diri saya. Gambaran diri tersebut merupakan kesimpulan dari pandangan kita dalam berbagai peran yang kita pegang. Dimensi pengetahuan (kognitif) dari konsep diri mencakup segala sesuatu yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai pribadi.
b.     Harapan
Dimensi kedua dari konsep diri adalah dimensi harapan atau diri yang dicita-citakan di masa depan. Kita juga mempunyai pengharapan bagi diri kita sendiri., penghargaan ini merupakan diri-ideal (self-ideal) atau diri yang dicita-citakan. Cita-cita diri (self-ideal) terdiri atas dambaan, aspirasi, harapan, keinginan bagi diri kita, atau menjadi manusia seperti apa yang kita inginkan. Cita-cita diri akan menemukan konsep diri dan menjadi faktor paling penting dalam menentukan perilaku kita. Harapan atau cita-cita diri juga akan membangkitkan kekuatan yang mendorong kita menuju masa depan dan akan membantu aktivitas kita dalam perjalanan hidup kita.
c.      Penilaian
Dimensi ketiga dalam konsep diri adalah penilaian kita terhadap diri sendiri. Menurut Calhoun dan Acocella (1990), setiap hari kita berperan sebagai penilaian tentang diri sendiri, menilai apakah kita bertentangan dengan: (1) pengharapan bagi diri kita sendiri (saya dapat menjadi apa); (2) sandaran yang kita tetapkan bagi diri kita sendiri (saya seharusnya menjadi apa). Menurut Centi (1993), meski kita dapat memandang diri sebagai amat berharga atau sama sekali tidak berharga, biasanya kita senang dengan beberapa ciri atau sikap yang kita miliki atau rasa memiliki dan tidak senang dengan beberapa ciri dan sikap yang lain.
2.     Konsep Diri dalam Prestasi Belajar
Sejumlah ahli psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi belajar mempunyai hubungan yang erat. Nylor (1972) misalnya, mengemukakan  banyak peneliti yang membuktikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi belajar di sekolah.

            Untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan prestasi belajar, Fink (dalam Burns, 1982) melakukan penelitian dengan menggunakan sejumlah siswa laki-laki dan siswa perempuan yang dipasangkan berdasarkan tingkat inteligensi mereka, selain itu mereka juga digolongkan berdasarkan prestasi belajar mereka, yaitu kelompok prestasi lebih (overachievers) dan kelompok prestasi kurang (underachievers).
Siswi yang tergolong overachievers menunjukkan konsep diri yang lebih positif, dan hubungan yang erat antar konsep diri dan prestasi belajar yang terlihat jelas. Walsh (dalam Burn, 1982), juga menunjukkan bahwa sisa-siswi yang tergolong underachievers mempunyai konsep diri yang negatif, serta memperlihatkan beberapa karakteristik kepribadian (1) mempunyai perasaan dikritik, ditolak dan diisolir; (2) melakukan mekanisme pertahanan diri dengan cara menghindar dan bahkan bersikap menentang; (3) tidak mampu mengekspresikan perasaan dan perilakunya